Sabtu, 12 Februari 2011

CERPEN : "CINTA PERTAMAKU,CINTA TERAKHIRKU"


**
Saat ini usiaku sudah menempuh 59 tahun, dan sebentar lagi aku akan memasuki usiaku yang ke 60 tahun, bagiku hidupku sangat luar biasa. Banyak cinta yang mengalir disetiap kehidupanku, dan cinta pertamaku.. dia tak pernah mati didalam hidupku.

Kalian tahu apa yang aku sembunyikan selama 40 tahun lamanya, yaitu sebuah tas cantik yang sudah sangat lama ku simpan didalam lemari pakaianku, dan setiap pagi selama 40 tahun aku selalu membuka isi tas itu, didalamnya terdapat surat-surat cinta dari kekasihku “Aldo”, agak aneh memang.. karena saat ini sesungguhnya aku telah memiliki 2 orang putra.

Ku ceritakan kisah mudaku 40 tahun yang lalu,..
***
Saat itu umurku masih 19 tahun, aku menikmati bangku kuliahku dengan penuh semangat, aku ingin sekali menjadi dokter anak dan kuliahku akan berat jika aku tidak giat mengikuti semua pelajaran persemester dengan baik. Dan di kampus inilah pertemuanku dengan Aldo dimulai, kami bertemu saat kami sama-sama makan dikantin kampus, Aldo sesekali memandangi aku yang duduk nyaris berhadapan dengannya, dan sejak saat itu Aldo hanya selalu memperhatikan aku, setiap jam pulang kampus, saat aku bakti sosial dan saat aku menghias madding kampus. Selama itu Aldo tidak banyak mendekatkan dirinya padaku, dia hanya memperhatikan aku dari jauh. Sampai suatu hari ada acara pesta dansa di kampus ku, aku berharap dari enam orang pria yang mengajak aku untuk menjadi pasangannya berdansa adalah Aldo, tapi salah satu dari mereka tidak ada Aldo, keenam orang itupun aku tolak. Aku hanya ingin Aldo, entah apa yang saat itu merasuki jiwaku, tapi aku sangat yakin bahwa Aldo akan memintaku. Tepat sehari sebelum acara pesta dimulai Aldo mendatangiku dan meminta aku untuk menjadi teman dansanya, tanpa basa-basi ku jawab “yes, I want”. Setelah acara ini kami merasa sangat bahagia. Aku merasakan bahwa kami memang sangat serasi, kami bisa merasakannya tanpa orang lain bilang. Tetapi kebahagiaan itu hanya datang sebentar karena tiga bulan setelah itu Aldo harus pergi ke Amerika dan melanjutkan kuliahnya disana, karena Ayahnya harus ditugaskan keluar negri jadi semua keluarganya harus ikut.

Selama Aldo disana kami selalu berkabar lewat surat, selama 5 tahun lamanya. Aku sudah selesai kuliah dan sudah bekerja disalah satu rumah sakit ternama sebagai seorang dokter anak. Aldo bahkan sudah bekerja lebih dulu, kini Aldo adalah seorang pengusaha besar di Amerika. Sebenarnya saat itu bisa saja Aldo pulang ke Indonesia untuk menemui aku, tetapi keadaan kini sudah berubah. Sejak Ayah Aldo meninggal, Aldo telah dipesan agar tidak meninggalkan ibu dan adiknya di Amerika, Aldo pun telah dijodohkan oleh perempuan cantik pilihan ibunya. Sedangkan aku di Indonesia harus mencoba untuk menerima cinta baru dari seorang laki-laki tua kaya raya bernama Teddy yang dikenalkan oleh tanteku.


 Akhirnya aku menikah dengan Teddy, sungguh aku hanya menghormatinya sebagai seorang suami, karena Ted tahu bahwa aku masih belum bisa melupakan Aldo. Orang tuaku sudah tidak sabar untuk menggendong cucu dan selalu mendesak aku untuk segera memiliki momongan. Aku pasrah malam itu, ku biarkan Ted berbuat sesuka hatinya kepada aku, toh Ted adalah suamiku yang sah, jadi memang kewajibanku untuk melayaninya. Dalam pikiranku saat itu “aku menyanyangi Ted dan sangat menghormati Ted.. tetapi ia tahu bahwa cinta itu tidak pernah tumbuh”.


Aku mendapatkan dua orang putra dari Ted, putra pertamaku bernama “Reynold” dan yang kedua bernama “Sammy”. Reydan Sammereka berdua sangat pintar mereka selalu mendapatkan beasiswa dan selalu membuat aku dan Ted bangga. Setelah 25 tahun lamanya pernikahan aku dengan Ted, ia menghembuskan nafas terakhirnya diusia 82 tahun. Banyak sekali kenangan manis aku dengan Ted, dia adalah lelaki yag sangat sabar, menerima aku apa adanya (meskipun aku tidak memberinya cinta), Ted adalah Suami terbaik dan Ayah yang sangat pengertian pada anak-anaknya. Kini tugas aku adalah menghidupi anak-anakku agar tumbuh dengan baik.

***
sudah 10 tahun yang lalu Ted meninggal, kini aku tergoda kembali untuk membuka masa laluku bersama Aldo, aku membuka surat demi surat dan membacanya kembali, aku tersenyum, aku menangis. Terlintas dalam pikiranku mengapa aku tidak mencoba untuk menghubungi Aldo kembali, karena rasanya saat ini aku sangat kesepian kedua putra ku telah hidup sendiri-sendiri dan hanya setiap hari sabtu dan minggu mereka tinggal dirumah bersamaku.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengirimkan surat pada Aldo,

Dear Aldo,

Apakah kamu masih ingat pada gadis yang sering mengenakan rok panjang dikampus? Sering mengenakan pita dirambut yang ikal?
Apakah kamu masih ingat aku?
Aku Jasmine, cintamu yang masih sangat memikirkanmu. (ku berikan foto ini agar kau tak lupa)
 
apa kabar mu sekarang Aldo? Bagaimana juga kabar keluarga mu?................

#####,,,,........

Tiba-tiba aku berhenti menulis, karena suara ketukan yang berasal dari pintu rumahku telah mengejutkan aku. Aku merapikan kertas surat dan foto mudaku yang hendak kukirim pada Aldo, aku merapikan semua barang-barang lalu menaruhnya dengan apik kembali kedalam lemari, lalu aku turun kelantai bawah.

Aku membuka pintu, kulihat seorang lelaki kira-kira berumur tidak jauh beda dariku, mungkin 65 tahun. Rapi dengan memakai jas dan rambut tipis yang disisir rapi. Aku terdiam memandang orang itu, tapi hatiku tidak diam, aku tahu orang yang ada dihadapanku adalah ALDO, cintaku.
Aldo tersenyum kepadaku “kamu masih mengenal aku?” aku mengagguk, entah apa yang harus aku katakan dan aku lakukan, aku hanya memeluknya dengan erat, Aldopun membalas pelukanku tidak kalah eratnya.

Aku dan Aldo kini duduk diruang tengah, banyak sekali yang kami bicarakan, dari mengenang, menangis bersama, tertawa dan aku merasakan cinta itu memang tidak pernah mati. Aldo bilang bahwa dia kini menduda, istrinya meninggal karena kanker payudara, dan Aldo  hanya memiliki seorang putri, Aldo memutuskan pulang ke Indonesia karena ia telah pensiun dari pekerjaannya Dan keinginan terbesarnya adalah, ia ingin menemuiku.

Dugaanku tak salah selama ini, aku selalu bicara dalam hatiku, bahwa Tuhan akan mengembalikan aku pada cinta pertamaku yang tidak pernah mati didalam hatiku. Cinta yang selalu menemani aku selama ini, dan cinta itu adalah Aldo.

Tepat diusiaku ke 60 tahun pada tanggal 15 januari 2011, aku menikah dengan Aldo, putra dan putri kami sangat mendukung. Pesta pernikahan sederhana, pesta kebun yang manis dan dihadiri 65 orang kerabat dekat.

 

Akhirnya kebahagian itu dapat ku nikmati sampai detik ini, kemanapun kami pergi selalu berdua, dan tak lupa setiap hari sabtu malam kami selalu menyediakan waktu untuk berdansa. kami menikmati hidup berdua seumur hidup kami.

Cinta pertamaku, Cinta terakhirku.

_ndah_

Jumat, 11 Februari 2011

Cerpen : "AKU BELAJAR MENCINTAI"

Kenapa memilih teater? Apa enaknya? Memangnya sama dengan artis sinetron atau film yang sering kami tonton? Apa bedanya?

Kira-kira begitulah pertanyaan orang-orang diluar sana bila mendengar aktifitas lainku selain kuliah, yaitu bermain teater. Menurutku bermain teater memiliki kepuasaan tersendiri yang bisa aku nikmati selama ini, dan ditempat ini pula cerita cintaku dimulai.

Hari ini jujur aku katakan bahwa aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada Atar, dia adalah salah satu teman bermainku dalam teater berjudul “Panggil Aku Cinta” kami selalu dipasangkan menjadi seorang adik dan kakak, tapi baru dijudul ini kami dipasangkan menjadi sepasang kekasih. Aku tahu bahwa Atar memiliki pacar yang manis, pacarnya sangat baik dan sesekali aku pernah bicara pada gadis itu, dan memang ini yang membuat aku mengambil keputusan bahwa Atar hanya sebatas teman kerjaku.

Seiring waktu berputar, “Panggil Aku Cinta” telah sukses dan telah ditonton ribuan orang, bahkan kami sempat go internasional.

Beberapa bulan kemudian aku dipanggil untuk membicarakan judul teater selanjutnya, sutradaraku mas Adrian akan membuat “ROMEO dan JULIET” yang diperankan oleh orang-orang indonesia, sungguh terkejut beliau meminta aku untuk memerankan tokoh Juliet. Entah apa yang aku rasakan saat itu, sangat bahagia pastinya bisa memerankan tokoh yang dari dulu sering ku puji. Mas Adrian juga bilang bahwa Atar akan memerankan tokoh Romeo, dan ini yang ada dalam pikiranku sekarang, “kami akan latihan bersama setiap hari, lalu tour kebeberapa Negara untuk memerankan tokoh yang kami mainkan”.

Hari pertama,

Hari ini dimulai dengan aku memasuki ruangan teater dimana semua bangku kosong, aku berjalan penuh semangat menuju panggung. Aku melihat Atar sudah berada di atas panggung dengan mas Adrian, aku berlari kecil langsung naik kepanggung. “maaf telat mas, tadi abis kuliah” mas Adrian terseyum, “gak telat kok Ra, kami juga baru sampai”. Atar menghantarkan senyuman untukku, lalu aku membalas senyuman itu, Mas Adrian pun teriak .. “Yuukk mulaaiii!!”.

***
ROMEO (ATAR)
But soft, what light through yonder window breaks?
(pause)
 It is the East, and Juliet is the sun!
Arise, fair sun, and kill the envious moon, Who is already sick and pale with grief. That thou her maid art far more fair than she. Be not her maid, since she is envious. Her vestal livery is but sick and green, And none but fools do wear it.

ROMEO (ATAR)
It is my lady.  O, it is my love!
O that she knew she were!

JULIET (RARA)
Ay me!
ROMEO (ATAR)
She speaks.
O, speak again, bright angel!

JULIET (RARA)
O Romeo, Romeo! - Whyfore art thou Romeo?
Deny thy father and refuse thy name.
Or, if thou wilt not, be but sworn my love, And I'll no longer be a Capulet.

ROMEO (ATAR)
Shall I hear more, or shall I speak at this?

JULIET (RARA)
'Tis but thy name that is my enemy. Thou are thyself, though not a Montague.
What's Montague?  It is not hand nor foot nor arm nor face nor any other part
Belonging to a man.  O, be some other name!
What's in a name? That which we call a rose
By any other word would smell as sweet.
So Romeo would, were he not Romeo called,
Retain that dear perfection which he owes
Without that title.  Romeo, doff thy name,
And for thy name, which is no part of thee, Take all myself.

ROMEO (ATAR)
I take thee at thy word!
Call me but love, and I'll be new baptised.
Henceforth I never will be Romeo.
***

 Tepukan tangan terdengar cukup keras, aku dan Atar melepaskan pegangan tangan kami yang sedari tadi begitu erat. Rasanya saat itu Juliet telah merasuki jiwaku dan memiliki seseorang seperti Romeo. Mas Adrian meminta kami istirahat sejenak, kulihat Atar langsung turun dari panggung dan mencium kening kekasihnya yang duduk dibangku penonton, aku hanya terdiam dan tersenyum sambil menghapus pikiranku.

..
Hari ke 28,

Panggung terlihat sepi dan gelap, aku memangku kepala Atar yang tengah tertidur dipangkuanku, tiba-tiba lampu sorot menyala.


***
ROMEO (ATAR)
my love, my wife..Death, that hath sucked the honey of thy breath,
Hath had no power yet upon thy beauty,
Thou art not conquered.  Beauty's ensign yet
Is crimson in thy lips and in thy cheeks, And death's pale flag is not advanced there.
Ah, dear Juliet, why art thou yet so fair? Shall I believe that unsubstantial death
Is amorous and keeps thee here in dark
To be his paramour?  For fear of that. I still will stay with thee.  Here, oh here
Will I set up my everlasting rest.. And shake the yoke of inauspicious stars..From this world-wearied flesh.

Eyes, look your last.
Arms, take your last embrace.
And lips, O you
The doors of breath, seal with a
righteous kiss...

A dateless bargain to engrossing death.

true apothecary, thy drugs are quick.

JULIET (RARA)
Oh Romeo, what's here?
Drunk all, and left
No friendly drop to help me after. I will kiss thy lips. Haply some poison yet doth hang on them.. To make me die with a restorative.

“Aku mendekatkan bibiku pada bibir Atar, mengecupnya pelan”.

JULIET (RARA)
Thy lips are warm.

ROMEO (ATAR)
Thus with a kiss I die.

JULIET (RARA)
Romeo.  O' my true love Romeo.
***

Lampu kembali gelap, lalu tepukan tangan bersorak sangat kencang, semua crew yang menonton ikut menghayati peran kami sampai seisi ruangan kembali terang dipenuhi lampu yang menyala.


Aku masuk kedalam ruang rias, membersihkan make up tipisku. Atar mendekati aku, aku menoleh bingung kearahnya. “mau nonton gak hari ini?” tanyanya. Aku tersenyum “boleh”.


Aku dan Atar sudah didalam mobil dalam perjalanan menuju daerah HI, aku bertanya pada Atar. “kenapa ajak aku nonton? Pacarmu mana?” Atar tersenyum lalu menggeleng, “kami sudah putus”. Aku terdiam mendengarnya, entah apa yang harus aku katakan.


…….

Setelah pergi bersama dengan Atar saat itu, rasanya aku mulai berani berharap kembali untuk mencoba menyukainya kembali. Atar pun memberikan respon yang sangat kuat padaku. Hingga akhirnya seminggu kemudian Atar bicara padaku, “Ra.. apa kamu mau jadi pacar aku?” jujur saat itu aku tak tahu harus berkata apa, karena menurutku itu terlalu cepat, “apa tidak terlalu cepat” Atar tersenyum lalu menatapku dengan lekat, “Cinta itu tidak butuh waktu, cepat atau lambat rasa itu akan tetap sama” Aku menatap mata Atar, dan entah apa yang aku rasakan, aku seperti terhipnotis lalu dengan perlahan aku mengangguk. Dan Atar memelukku dengan hangat.


Perjalanan cintaku dengan Atar tidak seberat percintaan Romeo dan Juliet, tetapi perbedaan sifat kami yang sering membuat kami bertengkar setiap hari, perkelahian mulut yang kadang sangat menyakiti hatiku, sikap yang tak bisa dimengerti, keegoisan yang tak bisa dihilangkan, aku tak menyalahkan Atar, karena akupun selalu mencoba untuk mengenalnya lebih dalam. Kami tak seperti sepasang kekasih lain, hidup kami hanya Teater dan kuliah, hampir tak memiliki waktu untuk bersama. Kami hanya bertemu saat teater dimulai. Setelah itu kami sibuk dengan pendidikan kami, waktu liburpun sudah kami pakai untuk keluarga, tidak ada yang salah dan disalahkan. Sekuat apapun kami mencoba untuk mempertahankan cinta kami.


Hingga suatu hari, sepulang dari teater..


Atar berkata ingin bicara padaku diatap gedung, tempat biasa kami beristirahat dari lelahnya latihan teater. Siang itu langit sangat cerah, aku berdiri dihadapan Atar sambil memegang gelas berisi teh dingin.


ATAR
Apa kamu akan mempertahankan semua ini? Apa kamu yakin?

RARA
Kenapa kamu bertanya seperti itu sama aku?

ATAR
Jawab aja..

RARA
Aku ingin kita tetap bersama.

ATAR
Dengan keadaan seperti ini? Jujur aku jenuh, tapi aku tidak jenuh dengan hubungan kita.

RARA
Lalu?

ATAR
Aku jenuh dengan kamu.

Aku terdiam, sakit sekali aku mendengar perkataan Atar.

RARA
Tidak ada cinta lagi?

Atar terdiam, tak menjawab.

RARA
Apa kamu masih sayang aku?

ATAR
Aku sayang sama kamu ra, tapi aku tidak kuat dengan keadaan hubungan kita yang bisa dibilang gak senormal dengan hubungan mereka diluar sana.

RARA
Karena aku sibuk dengan pendidikan aku? Apakah kamu ingat saat kamu menemani aku bekerja seharian dikampusku? Tiba-tiba kamu berbisik dikupingku “aku akan menikahimu..bagaimanapun caranya”.. saat itu air mataku yang keluar adalah air mata bahagia.

ATAR
Dan apa kamu ingat? Kamu bilang kamu akan selalu mencoba untuk mengerti aku?

RARA
Apakah selama ini kamu merasa aku selalu cuek sama kamu? Gak kebalik?

Aku mulai sedikit keras, karena Atar pun keras kepadaku.

RARA
Apa kamu pernah kasih kabar ke aku, kamu mau kemana, dengan siapa? Sampai akhirnya orang-orang membicarakanmu yang tidak-tidak dikupingku.. apa kamu tidak sadar itu?

ATAR
Lalu apa kamu merasa aku tidak mendengar banyak yang berbicara tentang kamu?

RARA
Apa yang aku lakukan? Aku hanya melakukan kegiatanku, jika tidak ada, aku hanya duduk manis dirumah, menunggu kabarmu melalui handphone ku. Hanya itu.

ATAR
Aku capek.

RARA
Aku juga capek.

Kami tidak kuat rasanya meneruskan perdebatan yang semakin mengencang, Atar pergi meninggalkan aku. Aku terdiam ditempatku berdiri, begitu besar cinta yang aku berikan selama ini, tapi tiba-tiba seakan aku jatuh terhempas kebumi dengan tatapan kosong.


Seiring waktu berjalan, “ROMEO dan JULIET” adalah kenangan manis kami, kami tidak menyimpan dendam. Bahkan kami berusaha sebaik mungkin tetap bersahabat, dan yang aku dengar Atar sudah memiliki kekasih. Aku tersenyum, karena itu artinya aku sudah siap untuk menerima cinta baru. Entah kapan cinta itu akan datang, tapi aku percaya cepat atau lambat, aku selalu ingat perkataan Atar “Cinta itu tidak butuh waktu, cepat atau lambat rasa itu akan tetap sama” aku banyak belajar mengenal cinta, mengenal sifat dan sikap, mengenal rasa rindu dan pentingnya komunikasi dalam hubungan. Aku belajar mencintai, dan aku berharap suatu hari nanti akan ada yang mencintaiku seperti aku mencintai Atar, maka aku akan bertekuk lutut kembali mencintainya. Karena cinta itu indah, menyatukan perbedaan yang dimiliki dengan indah, tanpa banyaknya perkelahian dan tanpa kata “jenuh” dan juga “lelah”.



..ndah.. 

Minggu, 06 Februari 2011

PENDIDIKAN, KENAPA BABI, KRITERIA

hai bloggers..

judul kali ini ditulis sesuai pertanyaan dari para komentar, saya mencoba untuk menjawab sambil menjelaskannya :

ada komentar dari "asdhyth", katanya : "apakah kamu punya rencana untuk ikut peduli sama anak-anak tidak mampu yang tidak bisa melanjutkan sekolah dan belajar karena faktor ekonomi, padahal mereka mempunyai semangat yang luar biasa untuk belajar dan merupakan generasi penerus bangsa?"


Bagi saya belajar itu tidak memandang harta, dari keluarga terpandang, ataupun dari golongan apa. Belajar bisa dimana saja, kapan saja dan jika punya keinginan pasti bisa. Saya selalu berusaha untuk peduli pada pendidikan, karena saya lahir dari keluarga yang mementingkan pendidikan (bukan berarti pendidikan harus setinggi langit dan semahal apapun) justru ilmu yang harus dicapai setinggi langit lalu dapat disebarkan seluas mungkin untuk yang membutuhkan. Pendidikan adalah hal utama untuk mengatur pola berfikir, pendidikan juga tidak pernah memandang faktor apapun, saya selalu ingin melihat anak-anak bisa terus meneruskan pendidikannya, apalagi anak jalanan yang setiap hari, dari pagi sampai malam berada di lampu merah. Setiap kali melihatnya hati saya menangis, ingin rasanya membantu mereka. Walaupn pemerintah turut membantu, tapi rasanya keinginan dari mereka kurang. Yang sekarang harus dipikirkan adalah bagaimana meningkatkan kemauan mereka untuk belajar. Ini pun salah satu impian, walaupun saya ingin sekali membuat play group, tapi tidak menutup kemungkinan play group ini untuk semua kalangan, saya akan mencoba dari hal kecil, mendidik anak-anak hingga mereka dapat belajar dengan sebaik mungkin, sesuai pengaturan pendidikan. Dari hal kecil ini lah saya akan memulai dengan tingkatan diatasnya. Yang pasti saya tidak mau takabur, insya allah sebisa mungkin saya akan slalu berusaha peduli pada mereka dan berusaha membantu yang terbaik untuk pendidikan. karena saya yakin semangat yang tinggi mengalahkan apapun.


berdo'a, bersyukur, berusaha (semangat).






Ada juga komentar yang bertanya (win_dra21) : "Kenapa sih Andah suka babi?"


Temanya jauh banget ya? dari pendidikan ke babi. (hey.. bukan aku suka makan babi loh) aku hanya gemar mengoleksi pernak pernik babi. Kenapa? karena unik.


Awalnya aku melihat Babi layaknya binatang biasa, tidak memiliki daya tarik. Tetapi setelah melihat di beberapa toko bahwa babi itu memiliki banyak bentuk, ada patung babi tertawa, ada cristal babi, ada babi yang terbuat dari kayu bahkan keramik atau batu. Nah mendapatkan babi yang unik itu susah, ini yang membuat aku jadi merasa tertantang untuk mencari dan mencari BABI PALING UNIK. hehehe..




Komentar ini dari "terinspirasi oleh jaman" : "untuk mendapatkan calon suami yang tepat dan direstui seluruh keluarga ada kriteria khusus kah untuk itu?"


Sebenarnya saya tidak memiliki kriteria khusus untuk siapapun. Entah "dia" siapa? dari kalangan mana? apa pekerjaannya? karena rasa sayang itu akan muncul dari mana saja, kapan saja, dan dimana saja. yang pasti jika saya menyukai seseorang saya selalu memberitau keluarga, karena mereka patut mengetahuinya. Mereka tidak pernah melarang saya dan jika ada yang mereka suka atau tidak, mereka akan bilang apa adanya, selanjutnya ada ditangan saya. Karena saya tahu masing-masing orang berbeda-beda, dan kadang perbedaan itu adalah indah, sekarang tergantung bagaimana kita menyikapi perbedaan itu. jika sepasang anak manusia menjalin hubungan, berarti mereka berdua yang akan menyikapi perbedaan tersebut, mencoba menyatukannya walaupun kadang gagal kadang sukses. Kadang kalau kita terlalu memikirkan KRITERIA akan susah sendiri.


tetap berdo'a (untuk mendapatkan yang terbaik), bersyukur (jika telah mendapatkan) dan berusaha (untuk mendapatkannya).



Rabu, 02 Februari 2011

CITA-CITA MASA KECILKU

Apa yang pernah kalian ingat tentang cita-cita masa kecil kalian?

Tolong jangan tertawa jika aku beritahu suatu rahasia kecil tentang cita-citaku yang tak akan pernah tercapai.. (lebih tepatnya sekarang aku tak ingin mencapainya).

Apa kalian tahu cerita tentang seorang putri? Cinderela misalnya, atau snow white, atau bahkan sleeping beauty. Ya mereka adalah beberapa tokoh putri yang mungkin kalian sering baca dibuku dongeng, atau kalian tonton di DVD,CD atau salah satu stasiun televisi.

Aku tidak pernah ingin menjadi cinderela, yang tiba-tiba ajaib memiliki gaun indah dan kereta kuda yang cantik dan mewah. Aku tidak berkhayal saat aku menjadi putri salju dan berteman dengan para kurcaci, lalu bertemu dengan nenek sihir. Aku juga tidak pernah bermimpi menjadi tokoh jasmine dalam film aladin.

Saat umurku lima tahun aku sering menonton “the little mermaid”, lebih tepatnya tokoh Ariels : seorang gadis berambut panjang berwarna merah, memiliki sirip ikan cantik berwarna hijau/biru, anak dari raja laut yang kekar, kehidupan didalam lautan yang membuat gadis ini menjadi seorang gadis mandiri, petualang, sederhana dan mudah berkawan. Ya.. dulu cita-citaku adalah menjadi seorang PUTRI DUYUNG.

Aku ingin seperti tokoh Ariels, bisa mengelilingi isi lautan, berteman dengan lumba-lumba yang cantik, memiliki sahabat kecil (ikan) berwarna kuning dan biru, melihat tingkah lucu seekor kepiting, kemudian jatuh cinta pada seorang pelaut (yang ternyata seorang pangeran). Cerita klasik dan sederhana ini yang membuat daya khayalku melewati batas, sampai-sampai aku pernah bilang pada teman-temanku bahwa nama panjangku adalah : Asmirandah Zantman Ariels.

Aku ingat saat aku memohon-mohon pada papa untuk membuatkan kolam ikan di rumah. Papa menuruti kemauanku, dibuatkanlah kolam ikan dengan ukuran agak besar dan memanjang. Setelah jadi, kolam ikan tersebut diisi banyak ikan hias yang indah dan setiap sore sepulangnya aku dari sekolah, aku selalu menyiapkan diriku untuk memakai baju renang lalu dari pinggul sampai kaki kubaluti kain (agar menyerupai putri duyung) dan… BYUuuurrrr!! Aku menyeburkan tubuhku dan bermain bersama ikan-ikan. Semua orang dirumah hanya bisa menghela nafas melihat tingkah ku yang (jujur kalau aku melihat anak kecil melakukan hal seperti itu, pasti aku akan bilang : Aneh!), tapi itulah aku.
Semakin aku tumbuh besar, aku semakin mengerti bahwa tidak mungkin aku bisa menjadi tokoh Ariels dalam kisah nyata. Aku tidak mau merubah kakiku menjadi sirip ikan walaupun menurut bayanganku memiliki sirip ikan itu sangatlah cantik. Bersyukur aku adalah manusia normal dan bukan jelmaan putri duyung.

FAKTAANYA :

*Walaupun aku sudah menutup impianku, tetapi aku masih mengoleksi film-film dan beberapa barang yang berhubungan dengan “The Little Mermaid”.
*I LOVE HER SO MUCH


MIMPI BURUK!!!


Aku ingat sepertinya aku sudah baca do’a sebelum tidur, tapiii……

Aku bangun dari tidurku, Nampak banyak cahaya didalam rumah, aku membuka pintu kamar dan lantai rumah tiba-tiba berubah menjadi batu. Aku melihat kanan dan kiri sisi rumah yang berubah menjadi gelap seperti gua, aku panik dan cemas sekali, aku berteriak meminta bantuan, memanggil papa dan mama. Aku berlari menuruni tangga tapi tiba-tiba saja tangga itu bergerak, tubuhku tidak seimbang dan akhirnya aku jatuh “AAaaaaahhhhh…” aku berdiri kembali tanpa merasa sakit. Aku mencari-cari pintu rumah tapi tidak kutemukan, yang kulihat hanya banyak hewan-hewan liar dengan suasana hutan yang begitu gelap.

Aku berjalan terus mencari arah yang benar,sampai akhirnya aku menemukan pintu belakang, aku keluar dan melihat halaman belakang rumahku sudah penuh dengan serangga. Aku teriak dan terus berteriak, berlari sambil mengusir beberapa serangga yang menempel dibajuku. Tiba-tiba seolah semua yang aku lihat berputar, dan aku kembali bangun dari tempat tidurku dengan suasana yang berbeda. Kini kamarku terasa sangat panas, suasana hening dan gelap, aku menatap kearah jendela depan tempat tidurku, saat itu aku melihat badan tanpa kepala melintas didepan mataku.

Dan.. AAaaaaaaaakkkhhhh!!!!!

Aku terbangun dari MIMPI BURUK ku, nafasku tersengal-sengal, pagi itu terasa dingin dan kamarku masih nampak gelap. Aku menoleh kekiri melihat pintu kamarku yang tertutup rapat sambil sesekali mengusap peluh, lalu aku menoleh kekanan, betapa terkejutnya aku melihat seseorang tidur bersamaku tertutup selimut dan hanya menyisakan kaki. (kakinya nampak, tapi dari mata kaki sampai kepala tertutup selimut) Aku sangat kaget (jujur kaget setengah mati) saat itu juga aku lari ketakutan keluar kamar.

Tujuanku satu-satunya adalah hanya masuk kedalam kamar papa dan mama untuk minta perlindungan. Aku masuk kedalam kamar orangtuaku yang ternyata mereka sudah bangun dari tidurnya, mereka kaget karena mendapati aku menangis ketakutan. “kenapa? Kenapa? Kok tiba-tiba nangis?” Tanya papaku dengan santai, sedangkan dengan panik aku langsung menceritakan semua mimpiku (entah saat itu mereka mendengar ceritaku dengan jelas atau tidak, karena aku bercerita bercampur dengan isak tangis). Setelah selesai menceritakan mimpiku, aku langsung bilang “dan sekarang dikamar Andah ada setannya pah.. tidur disamping Andah, cuma ada kakinya doang.. kepalanya gak ada”. Orangtuaku saling berpandangan heran, lalu papa memelukku dan mengajakku ke kamar untuk memastikan apakah ada hantu yang tidur dengan aku atau hanya halusinasiku saja.

Orangtuaku dan aku sudah berada di depan tempat tidur, dan jelas sekali merekapun juga melihat hantu itu. Papa dengan berani menarik selimut dan membukanya...Dan JREEEENNGG!! Kak Armand tidur dengan nyeyak dengan mulut terbuka. “jadi ini setannya?” Tanya papaku, aku hanya diam seketika tangisku berhenti dalam sekejap rasa takutpun berubah menjadi rasa malu yang tak sanggup kututupi lagi. Kak Armand perlahan bangun dari tidurnya, membuka mata dan hanya memandang kami sesaat lalu menarik selimutnya kembali dan kembali tidur tanpa merasa ada masalah.

“aku gak tau kalau kakakku tidur sama aku saat itu, karena setau aku dia belum pulang kerja”  pasti dia pulang malam dan langsung masuk kamar..huuuhh!!!

ME and MY LOVELY BROTHER


Seingatku saat itu umurku masih tujuh tahun, aku dan kakakku (panggil saja kak Armand) kami sering sekali naik sepeda disore hari. Kak Armand menggayuh sepeda dan aku duduk didepannya (bonceng depan), dulu didaerah rumah kami masih sangat jarang dengan rumah, apalagi perumahan. Dulu lapangan masih luas, dan masih banyak kebun-kebun juga ilalang.

Aku dan Kak Armand selalu ketempat favorite kami, yaitu sebuah lapangan besar  yang penuh dengan ilalang (kalo sekarang sudah dijadikan perumahan). Kami selalu senang menikmati pemandangan disore hari, melihat langit biru yang hampir menguning sambil menikmati hembusan angin yang sejuk dengan merebahkan tubuh kami dan menyatu dengan bumi. Hampir setiap sore kami melakukan hal itu, menikmati keindahan yang Allah ciptakan.

Tetapi sore ini kami memiliki keinginan yang lebih dari sekedar bermain, kami melihat sungai yang bersih, jauh dibawah tempat kami berdiri, “bagaimana caranya kita ke sungai itu kak?” Kakakku diam tak menjawab (tampak sedang berfikir). Lalu Kak Armand perlahan menuruni tebing, “Ayo kamu turun duluan!” dengan cepat aku menuruti apa kata kakakku, Aku memegang tangannya lalu perlahan aku turun. Pelan-pelan kami turun, tangan kiri Kak Armand memegangi tangan kananku, dan tangan kanannya berpegangan pada akar pohon yang keluar dari tanah.

Tanpa diduga aku terpeleset, karena tanah yang aku injak tidak kuat untuk dipijak, tanganku terlepas dari genggaman Kak Armand dan tubuhku terhempas jatuh hampir terperosok. Tapi untungnya Kakakku cepat menangkap tanganku kembali “pegang yang kuat!” teriaknya. Aku berfikir : ‘kalau aku hanya pegang tangan kakak.. aku bisa jatuh lagi, jadi aku berinisiatif untuk memeluk pinggulnya’ tapi sebelum aku memeluk pinggulnya, aku hanya bisa menarik celananya (karena celananya pakai karet) ,alhasil celananya melorot. Sempat tertawa dalam hati, tapi Kak Armand langsung sadar, dia langsung membenarkan celananya tanpa memegang akar pohon, dan itu membuat kami terjatuh berdua “AAaaaaaarrrggggg”. Untung saat itu ada daun yang menjalar di tanah jadi setidaknya kami masih bisa bertahan untuk mencoba merangkak, Aku lebih dulu merangkak dan naik keatas tebing lalu disusul oleh Kak Armand, kami berdiri lalu berpandangan, kami hanya bisa tertawa. “maaf ya kak.. gak sengaja ketarik” sambil pasang muka bersalah, “udah tau pake celana kolor, malah ditarik!” jawab Kak Armand ketus. “ya.. kan gak sengaja, abis panik!” Kak Armand pun akhirnya tersenyum, “mendingan sekarang kita pulang, sebelum dicariin mama dan papa”. Akhirnya kami pulang dengan baju yang kotor penuh tanah.

Sesampainya di rumah, kami hanya bisa diam berpandangan didepan pintu, karena papa dan mama ada diruang tamu sedang ngobrol berdua. “gimana nih, kalo ketahuan baju kita kotor pasti ditanya dan dimarahi” pikir kami. Karena sudah tidak bisa kabur, kamipun masuk dengan memasang tampang sumringah sambil berjalan menyamping (karena baju yang kotor kelihatan sekali dibagian belakang), dan langkah kami terhenti ketika papa bertanya “darimana kalian?” Kak Armand dengan cepat menjawab “keliling aja pa..”. Untungnya papa dan mama gak curiga, setelah menjawab kami cepat-cepat kabur naik kelantai atas untuk segera mandi.

***Kira-kira kami baru menceritakan soal ini pada mama dan papa, lama setelah kejadian.. saking takutnya diomelin.. hehe,, maaf ya ma..pa..

Senin, 31 Januari 2011

INILAH AKU 2

Pandanganku tertuju pada laptop yang ada dihadapanku, aku menulis tulisan ini sambil mengingat-ingat apa yang ada dalam ingatanku..

Pagi hari  yang tak kan pernah kulupakan, saat aku masih berumur empat tahun peraturan rumah adalah selalu sarapan pagi dimeja makan. Aku selalu memakai bantal untuk duduk dikursi, tubuhku yang terlalu kecil membuat aku butuh bantuan bantal, tetapi itulah proses belajar sampai akhirnya aku selalu makan dengan apik.

Aku teringat seorang gadis manis yang selalu menjawab "dalem" kalau aku panggil, gadis yang baik, bahkan sangat baik. Dia selalu menemani aku belajar, menemani aku makan jika orangtuaku sedang bekerja, menunggui aku mandi didepan pintu kamar mandi disaat umurku masih 6 tahun. Dia akan selalu kuingat, karena jasanya tak kan bisa kubalas. mbak Iyem terpaksa pergi dari rumah karena harus menikah di kampung, semoga dirimu selalu bahagia mbak.

Aku ingat saat Oma marah padaku, karena aku membuang sebungkus rokok milik Opaku di sungai. Dengan pelan aku bicara pada Oma "Opa sudah tua Oma.. gak boleh ngerokok terus, nanti sakit" Oma terdiam mendengar cucunya berkata seperti itu. maafin Andah ya Opa, apa yang cucumu lakukan untuk kebaikanmu.

Akan selalu kukenang gadis cantik yang selalu menemani hari-hariku, sahabat terbaik, teman kecil terbaik, sepupuku tersayang. Kepribadiannya membuat aku banyak belajar banyak hal, semangat hidupnya yang membuat aku berdiri sampai saat ini. Jilbabnya menutupi hatinya sampai ia kembali pada-NYA. Aku akan menepati janji yang pernah kita katakan saat kita tidur dalam satu tempat tidur. i love you Susi, Allah Mahatahu kau adalah gadis berhati bersih.

Aku selalu ingat saat Ayahku melukis dengan langkah perlahan aku selalu melihat hasilnya lalu aku selalu mentertawakan apa yang ayahku lukis "haha..papa lukis apa?" Ayahku hanya terdiam lalu menjawab pelan "suka-suka" dan kini aku mengerti apa yang beliau lukis adalah apa yang beliau suka dan ada dalam daya khayalnya.

Aku tak pernah lupa saat aku memotong rambut panjangku hingga pendek sekali, dan aku sangat menyesal saat itu.

Aku tahu saat aku berbohong pada orangtuaku, mereka lah yang paling tahu bahwa aku berbohong, hingga sampai kapanpun aku tak pernah bisa berbohong. Menurutku jujur akan lebih baik, walaupun jujur itu akhirnya akan menyakitkan.



keep smile.

Minggu, 30 Januari 2011

AYAM BALADO KEMANGI.. boleh dicoba..

Waktu itu ada yang sempet kasih comment di blog aku, gimana kalau aku berbagi resep masakan nah.. ini nih, aku bagi.. hehe, tapi sebelumnya biarkan aku bercerita :

Kisah ini dimulai saat aku duduk dibangku SD, tepatnya kelas empat SD, hobby aku bisa dibilang banyak banget, dari menggambar, melukis, nyanyi (walaupun teriak-teriakan cempreng), renang, sampai memasak (masak air). Nah.. saking senengnya lihat papa dan mama yang lancar dan lihai dengan alat-alat dapur dan bumbu dapur, itu yang membuat aku tertarik untuk belajar masak. Karena merasa paling bisa (sok tahu) aku memutuskan untuk belajar masak sendirian (anak kecil yang sombong), aku fikir kalau aku belajar sendiri aku akan mandiri dan cepet bisa, tapi ternyata, o.. owww!!

Hari itu aku belajar membuat nasi goreng (anggap aja "nasi goreng ala Andah)

Pertama-tama aku menyiapkan kuali (bener gak ya tulisannya?), lalu aku memotong bawang merah, bawang putih dan cabai merah. ooppss, lupa.. saat itu aku sudah menyalakan api. Lalu dengan bergumam menyanyikan lagu eno "kamu makannya apa? tempe..xxxxxxxxxx". Waktu terus berbutar aku memasukan nasi putih kedalam kuali tanpa MINYAK (sebuah kesalahan besar) lalu aku kembali menyiapkan kecap dan garam.

Sedangkan diruang tengah papa dan mamaku sudah mulai agak ribut, "bau apa ya?" aku tetap tenang masih dengan bernyanyi memotong bawang yang gak selesai-selesai sampai berurai airmata. tak lama dari suara ribut, papa dan mama langsung berlari kedapur. Dan "ya Allah.. itu gosong!!" teriak mamaku, ternyata nasinya gosong dan asap hitam sudah meluap keluar (agak lebay), maksudnya sudah berasap. Alhasil aku dimarahin sama papa dan mama, tapi mereka malah menyuruh aku membersihkan semuanya lalu dengan baiknya mereka mengajarkan aku masak dengan cara yang benar.

Tidak lama aku belajar masak, mungkin dalam hitungan dua tahun bisa dibilang aku mulai lancar memasak, aku mencoba dari resep-resep di buku. mencoba membuat berbagai macam jenis makanan dan hasilnya bisa dirasa cukup enak.

Tahun berganti.. aku juga tumbuh lebih tinggi kalau biasanya masak pakai bangku, sekarang gak perlu lagi berdiri diatas bangku. Aku belajar membuat masakan dari tempe, tahu, ayam, daging, kue basah, cake, hingga kue kering. hingga sekarang aku menyatakan bahwa perempuan bisa masak memiliki nilai plus.

Menurut aku masak bukan cuma sekedar masakan enak, dimakan habis dan kenyang. tapi masak itu juga harus pakai perasaan, jadi kalau masak "duh.. keasinan ni" --> ini bukan tandanya mau kawin, dan kalau masaknya "duh, kok rasanya hambar" --> ini bukan karena gak bisa masak, tapi perasaan orang yang masak sedang bercampur-campur. Kadang kalau kita happy, masakan pasti enak, apalagi yang hobby masak dan selalu berkreasi dalam memasaknya. mungkin kalau masakan di restaurant sudah ada ukurannya jadi kadang tidak merubah rasa. Tapi kadang perasaan dan tangan bisa merubah rasa masakan, ada juga masakan yang diukur dari membuat sambal, kalo sambalnya enak berarti cita rasanya dalam memasaknya juga lumayan oke.

Nah, aku selalu mencoba banyak masakan sampai akhirnya aku berhasil membuat masakan enak di tahun 2004 (AYAM BALADO KEMANGI).

Bumbu :

8 siung bawang merah
3 siung bawang putih
1 buah tomat
cabai merah (secukpnya, tergantung selera :pedas atau tidak)
1 batang sereh (memarkan)
jahe, memarkan (secukupnya)
lengkuas, memarkan (secukupnya)
2 lembar daun salam
garam (secukupnya)
gula merah (secukupnya)
kemangi (secukupnya)

*Ayam (1 ekor)

Cara memasak :
bawang merah, bawang putih, tomat, cabai merah (diblender sampai halus), siapkan kuali dan panaskan minyak, setelah minyak panas perlahan masukan bumbu yang sudah dihaluskan, kemudian masukan sereh, jahe, lengkuas, daun salam aduk merata, tak lupa masukan garam dan gula merah (pengganti vitsin, agar gurih) aduk sampai harum, lalu masukan ayam, aduk merata. lalu tutup kuali (diungkep), jangan lupa harus sering dilihat untuk ditambahkan air sedikit, masak sampai ayam benar-benar empuk. kalau mau tambahkan kaldu ayam juga boleh, agar masakan lebih berasa gurih.
saat terasa ayam sudah benar-benar empuk, masukan daun kemangi secukupnya, aduk rata sampai daun kemangi layu (jangan sampai menghitam daunnya). Lalu angkat masakan, siap disajikan dan dinikmati.


SELAMAT MENCOBA,

love..
ndah.

INILAH AKU

Aku memejamkan mataku..

Aku ingat saat umurku empat tahun, kenakalan yang kuperbuat membuat aku harus berdiri dengan satu kaki dan menjewer kupingku sendiri didepan jendela rumah dan aku tak boleh bergerak sedikitpun.

Teringat aku akan perkataan Ibuku yang selalu memberikan aku semangat belajar setiap aku akan ulangan disekolah. Dan tanpa sepengetahuanku Ibuku selalu tahajud tiap malam untuk mendo’akan keberhasilanku.

Aku ingat saat setiap Ayahku pulang kerja, aku tak pernah lupa untuk mengambil tas hitamnya, membukakan kaos kakinya dan membuatkannya secangkir kopi.

Sangat jelas dalam ingatanku Ibu dan Ayahku selalu mengajarkan aku untuk selalu dapat menerima kekurangan dan tidak lupa untuk selalu berusaha memberi saat senang maupun susah.

Saat aku duduk dibangku SMP aku ingat saat seorang anak memberikan aku satu buket mawar putih yang cantik, dan itu membuat wajahku merah padam.

Aku ingat saat ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun, aku meniup api dari  sebatang lilin yang menyala didalam kamar, aku berdo’a agar hari-hariku akan berjalan lebih baik.

Aku ingat saat Ayahku menangis dihadapanku, karena takut kehilangan dan takut anak perempuannya mendapati tempat yang salah.

Akan ku ingat kasih sayang yang pernah kurasakan dengan banyak hiasan pertengkaran – pertengkaran dan tangisan, yang membuat aku semakin kuat dan mengerti arti yang telah lama tidak kupahami.

Aku akan selalu mengingat saat Ibuku selalu menemaniku kemanapun aku pergi sampai detik ini, karena tanpa beliau entah apa yang akan terjadi kepadaku. Dan aku tak kan pernah bisa membalas budinya.

Aku tahu akan kasih sayang yang begitu besar, masa penantian yang menjawab sampai akhirnya menemani hari-hariku dalam susah dan senang, mengiringi setiap langkahku dengan senyuman tanpa lelah.

Tak kan pernah kulupakan kasih sayang para sahabatku yang sampai detik ini selalu setia dan tulus menemaniku dalam suka dan duka.

Tidak akan pernah kulupakan teman baruku yang cantik. Yang akhirnya kutemukan tak jauh dari tempatku berdiri sebelumnya, searusnya kami bertemu lebih cepat. Aku menyayangimu.

Tidak kusangka dalam hidup ini banyak yang dapat merubah pandangan semua orang dalam bertindak dan berfikir. Itu membuat aku bahagia, sehingga aku dapat melihat jelas mana yang benar sungguh-sungguh, mana yang hanya berpura-pura.

Aku akan selalu ingat cinta dari semua orang yang menyayangiku dan selalu mengelilingiku, menjagaku tanpa letih.

Ku buka mataku..

Dan kini saatnya aku belajar untuk lebih menghargai hidup agar semua yang kulakukan selalu dalam penglihatan dan lindungan-NYA.