Sabtu, 26 Maret 2011

Aku mencintaimu ibu..



Meringis jiwaku saat melihat mereka menyingkirkan segumpal darah bernyawa.
Teriris hatiku saat mendengar berapa banyak anak yang ditelantarkan.

Anak adalah anugerah,
Diinginkan, tidak diinginkan..
Dicintai, tidak dicintai..
Namun mereka tetap Anugerah..

Setelah melakukan kesalahannya, setiap hati seorang ibu akan selalu menyesal.
Lalu apa penyesalan dapat merubah semuanya akan menjadi lebih baik?
TIDAK.

Berapa banyak nyawa lagi yang harus dikorbankan? Berapa banyak nyawa yang harus menangis?

Apakah tidak bisa kita merasakan denyut nadinya..
Mendengar tangisannya..
Melihat langkah kaki kecilnya..

Apakah kita tetap bisa melihat tawa kecilnya?
Tatapan matanya, dan senyuman termanisnya?

Beberapa pasangan bertahun-tahun mendambakan mereka..
Tetapi pasangan lain membuang mereka, sebenarnya mereka berteriak “aku mencintaimu Ibu”

Cintai mereka sebelum dan sesudahnya, maka mereka akan menjadi anugerah terindah, karena mereka adalah yang terindah dari segalanya yang terindah.


Cintai mereka sepenuh hati


Mereka tak pernah memujiku,
Mereka tak pernah membenciku,
Mereka tak pernah mentertawaiku,
Tetapi mereka mencintaiku..

Sejak kecil mereka menemani setiap langkahku tanpa mengeluh, walaupun keringat menetes dari tubuh mereka.

Mereka selalu menyanyikan lagu tidur, seakan aku tak pernah terjaga dan selalu terlelap dalam tidurku saat mereka mengalami mesalah, dan mereka menjagaku sampai aku dewasa.

Keterbukaan kami membuat cinta kami selalu membuat keadaan buruk menjadi baik, yang sedih menjadi bahagia, dan tentu tak mudah menatanya..

Kami berjuang bersama dalam hidup, mengalami lika-liku, kesakitan, kepedihan yang selalu kami bagi bersama untuk memecahkan segala masalah dengan mencari alasan dan memperbaikinya.

Keluarga adalah segalanya, beruntungnya jika keluarga lengkap dengan cinta yang indah.

Pasti akan banyak kenangan bagi setiap keluarga yang tak lengkap, maka nikmatilah dengan kasih sayang sepenuhnya.

Jangan sia-sia kan orang tua, karena restu, do’a dan kata-kata mereka sesungguhnya adalah petunjuk jalan terbaikmu.. karena tuhan menitipkan mu pada mereka..

Untuk seluruh orang tua dan keluarga diseluruh dunia,


Aku membutuhkanmu..




Aku tak sepintar pencipta lagu yang dengan mudah menemukan kata dengan melodi.

Aku tak sepintar penyair yang bisa menghayati setiap syair dengan perasaan.

Tapi yang aku rasakan ini adalah pasti. Aku merasakan sesuatu..
Maka maafkan jika ada beberapa baris kalimat yang aneh.

Kau bukan hanya memindahkan isi tasku..
Bukan hanya memindahkan isi pikiranku..
Tetapi kau membawa aku kembali dari masa laluku.

Dan aku tidak percaya, sampai “Dia” bilang : Tenang!

Meskipun aku  tahu dari catatan sejarahku, aku bukanlah yang terbaik, yang aku minta hanya “jangan lepaskan aku”.

Aku yakin pada setiap kisah yang sama, bertahun-tahun aku bahagia hidup di dalam kenangan dan kejayaan yang lalu.

Tetapi kau memberikan aku alasan untuk bangkit kembali..
Kini aku membutuhkanmu walaupun kau hanya memberikan aku bunga potongan setiap bulan.



Terimakasih atas setiap waktu yang selalu kau berikan.
Terimakasih untuk setiap waktu yang kau luangkan untuk mendengarkan keluh kesahku.

INDONESIA, Aku Cinta..




Aku masih melihat anak-anak merengek meminta makanan, anak-anak yang ingin sekali bersekolah dengan harapan dan air mata yang berlinang.

Aku masih melihat orang-orang tua yang duduk dipinggir jalan.. menaikan tangan mereka dengan PASRAH atau TERPAKSA.

Mengapa?
Mengapa?
Mengapa mereka?

Apakah tidak cukup bantuan dari negri untuk mereka? Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka? Apa yang harus kita benahi untuk negri tercinta..

Apa?
Apa?
Apa semua akan menjadi baik?

Bagaimana caranya agar setiap orang memiliki satu pikiran untuk memikirkan kekurangan bangsa dengan membenahi segala penyebab kekurangan tersebut.

Bagaimana?

Apakah kami harus berdiam diri, berpangku tangan sambil memandang kosong tanpa menoleh?

Dengan menghormati yang terdahulu,
Jiwa muda harus menunjukan, Bangkit!, bangkit bersama! Berjuang untuk negeri Indonesia.
Diawali dengan pencerminan pada diri sendiri, percaya! Mampu!

to : Indonesiaku

Wanita tua disebrang




Setiap pagi, saat matahari masih malu-malu menatap langit, aku melihatnya keluar dari pintu kayu rumah itu, ia menyibakkan beberapa kain beraroma jamu.

Di siang hari, ia selalu menyisakan sepiring nasi untuk dikeringkan dan diolah menjadi makanan ringan.

Dan langkah kakinya selalu beriringan dengan irama sapu lidi setiap sore, menyingkirkan daun-daun yang kering bernuansa coklat.

Malam hari, tak pernah ia melewatkan waktu untuk selalu duduk di depan terasnya di kursi goyang sambil memandang langit gelap yang bertabur bintang setelah sholat isya.

Jumat, 25 Maret 2011

Aku merindukanmu..


Apa artinya seorang sahabat?
Apa artinya teman kecil?
Apa artinya saudara?
Apa artinya teman berantem?
Apa artinya teman yang baik?
Apa artinya sayang, tertawa, bercanda, menangis, sakit, bahagia?

Susi Andriati Purti, ketika aku menulis nama ini.. saat ini air mataku mengalir deras, dia adalah gadis kesayanganku, teman kecilku, sahabat terbaikku, saudara tercintaku, teman bertengkar, teman yang baik, berbagi kasih sayang dalam canda dan tawa, berbagi kesedihan dan duka, dan itu membuat kami bahagia.

Dia bukan sekedar sahabat, bukan sekedar saudara, dia adalah seorang gadis yang memiliki hati yang lembut, tak pernah ingin ia menyusahkan orang lain, tak pernah ingin membuat repot orang tua dan keluarganya. Gadis yang cantik dengan hati yang baik, menyimpan banyak kenangan bersamanya membuat aku selalu merindukannya.

Pernah sewaktu ketika saat aku dan susi bermain di rumah, saat itu usia kami masih 6 tahun, kami bisa bermain di dalam kamar seharian, kami menggunakan boneka –boneka yang seakan-akan mereka adalah keluarga kami.  Aku dengan boneka teddyku adalah sepasang adik-kakak, Susi dan boneka Loly adalah anak dan ibu, kami bisa bermain masak-masakan, kadang kami membuat tenda diatas tempat tidur dengan kain-kain, kami juga bisa membuat seakan-akan kami naik kesebuah mobil angkot dengan berpenumpang yang penuh, ada panda,beruang,kelinci (boneka).

Dalam urutan keluarga Susi adalah sepupuku, dan kami lebih dekat dari sekedar seorang sepupu. Kini aku hanya bisa menatap fotonya, berharap aku akan bertemu dengannya, entah itu kapan. Aku hanya bisaberharap dan selalu mengirimkannya do’a.

Senyum terakhir yang aku lihat, saat aku tahu Susi masuk rumah sakit yang katanya : karena tifus, namun pihak keluarga agak curiga bahwa sakit yang dideritanya bukanlah penyakit biasa, bahkan terdengar kabar bahwa dokter bilang hidupnya sebentar lagi. Aku datang menemui Susi hanya bisa memberinya semangat sambil melontarkan beberapa candaan “harus sembuh loh… kalo gak tonjok nih” ..aku melihat senyum dan mendengar tawanya, lalu dia berkata “iya.. aku sembuh.. ini juga sebentar lagi sembuh.. nanti mau kerja sama andah ya” aku tersenyum, entah apa perasaan yang aku rasakan, karena dibalik senyumanku hatiku seperti teriris. Aku melihat Susi sangat berubah, dia sudah memakai jilbab, dia menjadi sosok gadis yang cantik, namun tubuhnya kurus sekali.

Selang beberapa minggu dari aku menjenguknya, aku pergi keacara syukuran tempat temanku, dan malam itu kurang lebih jam 8 malam, mama menelepon ku dengan mengatakan “Susi telah pergi” aku hanya menggantungkan telepon genggamku dikuping sambil berjalan keluar pintu pagar sambil menangis. Betapa menyesalnya aku, aku tak dapat melihatnya untuk terakhir kalinya, karena dari acara temanku aku harus kembali bekerja di lokasi shooting, sepanjang malam itu tak berhenti aku menangis. Keesokan paginya aku berusaha kerumah Susi untuk melawat, aku melihat mama dan papa nya yang berusaha tegar, walau hati mereka sangat pedih, kehilangan anak pertamnya.

Dan saat aku menulis ini aku sangat merindukannya.


Kanker yang dideritanya karena perokok pasif mengambil nyawanya diusia 21 tahun, dan kami dengan tegar menyebutnya adalah takdir, kami tak bisa merubahnya. Perempuan cantik ini telah membekaskan kenangan yang paling indah dalam hidup kami termasuk dalam hidupku.

Kau selamanya dihati kami,

LOVE : ndah

Rabu, 02 Maret 2011

CERPEN : "dia tetap PAPA yang LUAR BIASA"

Kenapa harus ada anak kecil di dunia ini?

Kenapa harus melihat seseorang tumbuh dengan hal yang sangat menjijikan, tidak punya pendidikan, jorok, kotor…. AArrrrggghhhhh!!! gue paling benci kalau ada anak kecil yang buang air kecil sembarangan apa lagi sampai memuntahkan susu yang telah diminumnya.

Entah kenapa gue paling gak suka sama anak kecil, ya pokoknya anak kecil dari bayi sampai umur 15 tahun, dan untungnya gue anak satu-satunya dan gak punya adik. Gue tau, gue pernah dilahirkan dan itu artinya gue pernah juga jadi anak kecil, tapi menurut gue, gue adalah bayi yang bersih dan terdidik (sorry kalo agak kasar, tapi ini pendapat gue).

Sekarang umur gue 32 tahun, nyokap-bokap gue udah nyuruh gue buat nikah, mereka bilang, mereka pengen banget nimang cucu.. ahh.. boro-boro nikah, pacar aja gue gak punya. Selama ini setiap gue pacaran sama cewek, mereka pasti ngomongin soal pernikahan dan anak, huh! Okelah, nikah boleh..tapi anak? gue mikir lebih dari seribu kali untuk mikirinnya.

***

Siang itu gue ada acara di apartemen temen gue : Jhonny, dia ngundang beberapa teman dekatnya (termasuk gue) untuk ngerayaain anaknya yang ulang tahun ke satu tahun. Dan hari itu adalah hari yang membuat prinsip hidup gue lebih mateng. GUE GAK MAU PUNYA ANAK!.

Di apartemen Jhonny, gue ketemu orang-orang yang hampir semuanya sudah berkeluarga, sudah punya anak tentunya, sedangkan gue masih bujangan. Gue liat anak-anak itu main dengan air liur mereka, mencolek-colek kue koklat lalu memakan kue coklat itu (ini yang gue maksud dengan tidak terdidik) apa gak bisa orang tuanya ngelarang mereka berlaku seperti itu? Sedangkan anak-anak lainnya ada yang nangis (super kencang) dan yang paling gak enak dipandang, pas banget gue lagi makan istrinya Jhonny lagi bersihin pampers anaknya yang sudah penuh dengan kotoran anaknya.. (sial, kenapa juga gue harus liat!).

Okey, gue rasa hari itu sudah cukup hidup gue dipusingkan dengan kebisingan suara teriakan dan tangisan anak kecil, intinya anak kecil itu menjengkelkan.

***

Malamnya gue pulang kerumah dengan tampang gak enak, muka gue kusut dan rambut gue berantakan, baru aja gue sampe didepan pintu tiba-tiba seorang cewek membuka pintu dan kaget melihat gue (pikir gue : apa gue salah rumah?) gue liat keliling komplek, (bener ah, ini rumah gue) dan cewek itupun tiba-tiba tersenyum, gue bales senyum dengan sekilas lalu cewek tadi keluar dari teras kearah jalan, dan terlihat sebuah mobil terparkir disana (oohh.. mungkin anaknya temen nyokap atau bokap gue).

Dan begitu gue masuk rumah, nyokap-bokap gue segera manggil gue, dan mengenalkan gue sama tante Clara dan juga suaminya (kata nyokap : tante Clara itu temen SMAnya dulu) okay than, gue naik keatas untuk bersih-bersih.

***

Gak perlu waktu lama untuk bersih-bersih, yang penting gue ganti baju dan pakai parfum, hhmm cuci muka deh. Selesai itu gue langsung turun lagi untuk gabung ngobrol sama mereka diruang tengah, dan sekarang gue lihat jelas cewek itu (anaknya tante Clara) dia duduk dihadapan gue, dengan dress selutut warna merah, kulitnya yang putih bikin warna merah itu masuk banget ke kulitnya. Semakin dekat gue lihat, makin enak dipandang, dia cantik.. kalau harus gue ibaratkan mungkin kecantikannya sejajar dengan Natalie Portman (jujur, mukanya indo klasik, soalnya tante Clara juga bisa dibilang cantik).

sekarang gue tahu maksud kedatangan tante Clara, dia mau ngejodohin gue sama anaknya, ya tentu lah orangtua gue seneng, selain dapet menantu cantik, mereka juga sudah kepingin banget gue nikah dan lagi-lagi gue ucapkan “PUNYA CUCU”, masih jaman ya? Jodoh-jodohan? Belum tentu juga gue cocok sama nih cewek.

***

Dua minggu berlalu, jujur aja ternyata setelah gue jalanin masa pendekatan gue sama cewek ini, gue merasa nyambung banget.. eh sorry, gue belum kenalin dia (nama nya Anggie) panggilannya “Ann”, gue ngerasa cocok sama Ann, dia cewek yang bisa apa aja menurut gue, jago masak iya, kalau karokean suaranya bagus, dia jago berpuisi (gue pernah liat tulisannya di blog) dan dia juga seorang dokter yang cantik, (gak bosen memujinya setiap hari).

Hari ini gue jemput Ann dari kliniknya, gue mau coba bicara serius sama dia, rencananya gue mau ngajak dia kesebuah restaurant yang jauh dari kesan ramai, bukan di mall, bukan di kemang, tapi gue ajak dia ke restoran di kota.

Resto :

Gue pilih tempat yang paling nyaman, dengan suasana latar pemandangan dengan lampu-lampu Jakarta.

Ann : tempatnya bagus, kok kamu tahu ada resto di kota seperti ini?

Radit : (hehe) ya tau lah.. search di internet..

Ann pun tertawa menatap gue..

Ann : kamu mau bicara apa dit?

Radit : Tentang hubungan kita Ann, mungkin to the point aja ya, aku tuh memang mau banget nikah, aku jalan sama kamu ini memang dalam bentuk keseriusan aku. Ya mungkin awalnya aku pikir kenapa juga kita harus dijodohin sama orang tua kita? Toh, seharusnya kita bisa kenalan sendiri..

Tiba-tiba Ann tertawa kecil dan menghentikan pembicaraanku.

Ann : tunggu-tunggu, dijodohin? Siapa? Aku sama kamu? (haha) dit, kita itu gak dijodohin, mama aku memang temennya mama kamu, mereka mau ketemuan karena udah lama banget gak ketemu, aku anterin mama karena kebetulan hari itu aku gak ada praktek di klinik aku, mereka gak ada maksud jodohin kamu sama aku kok, justru sebelum kamu pulang, mama kamu minta aku untuk cariin kamu pacar.

Sumpah, malu banget gue….

Radit : jadi selama ini? Kita jalan begini? Maksudnya apa? Respon kamu?

Ann : dit, karena kamu to the point, aku juga to the point. Awalnya aku memang berniat sekali jodohin kamu untuk temen-temen aku, tapi setelah aku sering berkomunikasi sama kamu, aku rasa kamu nyambung sama aku, aku juga sering banget dengerin kamu siaran diradio, dan itu salah satu alasan yang bikin aku merasa klik sama kamu.

Gue tersenyum lebar, nih cewek kalau udah ngomong bisa berhentiin detak jantung dan nafas gue, gue cuma lihatin bibirnya (senyumannya) dan matanya (tatapannya itu tajam).

Ann : contohnya saat ini, kamu ajak aku dinner dan kamu bicarain soal hubungan kita.

Gue merasa, sepertinya ini cewek jodoh gue, tanpa basa-basi gue pegang tangannya.

Radit : Ann, kenapa kita gak coba pacaran aja?

Ann terdiam saat itu, dia hanya menatap gue, dan tiba-tiba dia tersenyum.

Ann : mungkin memang lebih baik kita punya .. status seperti itu.

(haha) walaupun gue nembak dia gak romantis, tapi suasana resto ini mendukung banget.

***

Gak terasa waktu berjalan secepat roda berputar, sekarang gue dan Ann sudah menjalin hubungan kami selama empat bulan.  Dan tekat gue makin bulat, gue rasa memang sudah waktunya gue bilang sama Ann tentang prinsip hidup gue, gue ajak Ann pergi ke daerah pantai, gue parkir mobil gue dan kita tetap didalam mobil. Ann terdiam dengan masih menatap gue, dia senyum dan memeluk gue, eraaattttt banget.

Radit : Ann, kita kan udah cukup berjalan lama. Kamu ngerasa pengen nikah gak sih sama aku?

Ann melepas pelukannya.

Ann : (haha) kamu serius?

Radit : aku serius Ann.

Ann : trus? Kamu ngajak aku nikah nih?

Radit : ya iyalah Ann, ngapain ditanya lagi?

Ann : kita nikah, hidup sama-sama, punya anak… dan

Sebelum Ann melanjutkan, gue langsung potong.

Radit : gak untuk anak!

Ann : maksud kamu?

Radit : An,, berapa kali sih aku harus bilang sama kamu?? Kalau aku gak mau punya anak!

Ann : (mulai sewot) okey..okey dengan alasan kamu yang macam-macam itu kan? Gak suka liat anak kecil ngompol, muntah, kamu jijik lah sama mereka. Kamu nyadar gak sih? Aku juga dulu anak kecil, kamu juga dulu pernah jadi bayi.

Radit : iya aku tau. Sekarang gini deh, kamu mau nikah sama aku atau gak??

Ann terdiam saat itu, gue juga ikut diam, gue akui, gue udh bentak Ann dan itu terlalu kasar.

Ann : aku butuh waktu untuk berfikir.

***

Sejak hari itu, hubungan aku dan Ann tidak sebaik dulu, komunikasi kami jadi berkurang (okey.. aku mulai merubah menggunakan bahasa Aku-Kamu setiap bicara dengan orang, mungkin ini pengaruh dari Ann) Ann juga selalu bilang butuh waktu sendirian, dan gak mau diganggu. Sedangkan aku tetap menjalani kehidupan sedia kala.

………..

Malam itu sesampainya aku dirumah, aku melihat mobil Ann sudah terparkir didepan pagar, aku cepat-cepat turun dari mobil dan masuk kedalam, ternyata Ann menunggu aku di teras depan, Ann bilang dia hanya mau bicara sebentar. Jujur saat itu aku deg-deg kan, apa keputusan yang diambil oleh Ann.

Ann : waktu aku gak banyak. Aku cuma mau bilang, aku … aku mau menikah sama kamu.

WHAT??? Aku gak percaya dengan kalimat itu.

Radit : boleh bilang sekali lagi Ann?

Ann : aku mau menikah dengan kamu.

Radit : sekali lagi aja Ann..

Ann : aahhh,,, Adittt…

Radit : Plisss..

Ann : aku sayang sama kamu dit, aku mau nikah sama kamu.

Saat itu juga aku peluk tubuh langsing Anggie dengan sangat erat, aku gak percaya dia datang untuk memutuskan menikah denganku.

***

Percaya gak percaya, hari ini aku dan anggie resmi menjadi suami istri. Dan kami tinggal dirumah kami sendiri, rumah mungil yang cantik dengan halaman yang agak luas, sepi dan hening, dengan udara yang masih sejuk. Kami membentuk rumah tangga yang sederhana, tapi sayangnya malam pertama kami gagal karena Anggie setelah akad nikah harus datang bulan, jadi kami harus menunda.

Tapi, malam ini aku bersiap berhubungan dengan istriku, Ann terlihat sangat cantik malam ini, aku mengajaknya tidur dan mematikan lampu.. apa yang terjadi? Aku gak bisa certain ditulisan ini.

*suasana gelap : tempat tidur

Ann : sayang, kamu pakai kondom ya?

Radit : aku kan udah bilang, aku gak mau punya anak!

Dan aku mendengar Anggie menghela nafas agak kesal.

***

Dan memang luar biasa, pernikahan itu memang sesuatu yang sangat harus dilakukan oleh setiap pasangan, kalian akan merasakannya setelah menikah nanti, kami sangat bahagia sekali, Anggie memang seorang wanita yang sempurna. Namun kebahagiaan itu menjadi bencana untuk diriku ketika suatu pagi Anggie bilang padaku kalau dia HAMIL.

Radit : kok bisaaa????

Ann : dit, kita kan sering banget melakukannya, mungkin aja kondom kamu bocor, atau waktu kita melakukannya di kamar mandi?

Radit : ah, gak mungkin.

Ann : dit, gak ada yang gak mungkin di dunia ini.. lagian kamu kenapa sih takut banget? Toh kita gak dosa, aku sama kamu itu suami istri yang SAH, jadi wajar kalau aku hamil.

Radit : tapi kan kamu tau aku gak mau punya ANAK!!

Ann : ya tapi sekarang kita akan PUNYA ANAK!!

Radit : gugurin aja!

Ann : Astagfirullah ADIT!!! Keterlaluan kamu!!

Aku terdiam, kali ini aku terduduk, aku telah membentak Anggie untuk kedua kalinya, dan saat ini aku membentak istriku sendiri.

***

Sejak itu rumah tangga kami tidak harmonis seperti dulu, Anggie terlihat sangat benci kepadaku, kami tidak tidur sekamar, anggie tidur di kamar tamu sedangkan aku selalu tidur disofa (bagiku, kamar kami harus ditiduri berdua), Aku maupun Anggie lebih banyak diam, Anggie pergi sendiri kemanapun ia inginkan, sedangkan aku juga melakukan hal yang sama. Namun sudah beberapa hari belakangan ini aku sering menggunakan waktuku untuk mengunjungi beberapa taman bermain.


*Taman bermain

Hari itu aku duduk dibangku taman, mengamati semua anak yang bermain ditaman, aku melihat seorang anak mendorong teman bermainnya hingga jatuh dan anak itu menangis, seorang ibu datang lalu menggendongnya, disisi lain aku melihat seorang anak memakan pasir yang ia pegang di taman itu (iiiyykkhh.. sungguh menjijikan, pikirku : bagaimana kalau dipasir itu ada kotoran kucing). Aku tak sanggup melihatnya aku segera pergi dari taman itu.

Dirumah aku melihat Anggie tengah makan dengan lahapnya, sambil membaca buku-buku tentang ibu hamil, aku memiringkan kepalaku membaca judul buku itu : “HAMIL ITU MENYENANGKAN”. (pikirku : buku macam apa? judulnya saja tidak jelas), Anggie yang melihatku langsung pergi meninggalkan aku, dan langsung masuk ke kamar tamu.

Akupun hanya bisa duduk disofa depan TV, sebelum ingin mengambil remote, aku melihat secarik kertas yang ditulis oleh Anggie, akupun membacanya.

Suamiku tersayang,
Kini usia kandunganku sudah memasuki usian dua bulan, entah apa yang harus aku lakukan untuk mengubah keputusanmu “tidak ingin punya anak” setelah aku tahu aku hamil aku ingin sekali menyembunyikan hal itu, tapi kamu adalah suamiku dit, kamu harus tahu apapun yang terjadi padaku, jujur aku sedih aku tidak bisa merasakan kasih sayang kamu selama aku mengandung anak kamu, apakah dia tak akan mendapatkan perhatian dari ayahnya kelak? Apakah kamu akan bertahan dengan egomu? Maaf aku menulis surat ini, karena aku rasa, mungkin lewat surat ini aku bisa mengajakmu berkomunikasi tanpa harus dengan emosi.

Aku terdiam setelah membaca surat itu, jujur aku tersentuh dengan kata-kata istriku, aku memang tak seharusnya berbuat seperti ini, tapi aku masih belum bisa berbuat apa-apa.

*Kembali ke Taman bermain, hari berikutnya..

Aku kembali ke taman bermain, aku rasa ini adalah satu-satunya tempat dimana (mungkin) aku bisa merubah pikiranku, aku kembali melihat anak-anak menangis, anak-anak yang teriak-teriak tidak jelas, anak-anak yang …huh! Cukup… mereka tidak bisa membuatku berubah pikiran, aku berdiri dari dudukku dan hendak pergi, namun seorang anak kecil (perempuan) sekitar usia dua tahun menarik-narik celana jeansku.

Anak kecil : papa..

Aku menatap anak itu, dia sangat lugu, mukanya cantik sekali tanpa dosa. Tapi yang membuat aku bingung, kenapa dia panggil aku “PAPA”

Anak kecil : papa… paaa.. papaaa…

Okey, aku semakin bingung, hingga tiba-tiba seorang laki-laki memanggil anak itu.

Lelaki : gadis, sini sayang ini, papa..

Anak itu berlari pada lelaki yang menyebut dirinya “papa”, aku terdiam melihat lelaki itu.

Lelaki : maaf, anak saya masih belajar bicara, jadi dia hanya bisa menyebut “papa” atau “mama”

Radit : oh, tidak apa.

Lelaki : menunggu anaknya juga?

Radit : oh, saya belum punya anak.. maksud saya istri saya sedang hamil.

Lelaki : wah, selamat kalau begitu.

Aku menerima jabatan tangan lelaki itu.

Lelaki : saya Marcel

Radit : saya Adit

Marcel : trus? Kamu kesini pasti karena tidak sabar menunggu anak kamu lahir ya?

Aku hanya tersenyum, entah aku harus membalasnya dengan apa.

Marcel : (menepuk bahu radit) kamu harus tahu, saat kamu melihat bayi kecil itu lahir, kamu akan tergetar melihatnya, tubuhnya yang mungil, dengan kulit yang masih berwarna pink agak kemerahan, dan saat dia membuka mata, kamu akan lihat, dia bagaikan malaikat kecil yang akan selalu kamu banggakan.

Aku terdiam mendengar perkataan lelaki itu.

Marcel : maaf saya bicara seperti ini, karena saya merasakan saat Gadis lahir, dan saat Gadis lahir, ibunya tidak bisa hamil lagi karena umurnya sudah memasuki usia 45 tahun, terlalu riskan untuk memiliki anak lagi.

***

dua bulan berlalu.. perlahan aku mencoba membaca beberapa buku-buku yang dibeli anggie, aku mencoba juga untuk mengajak anggie bicara, aku mengelus perut Anggie yang makin membesar (seperti orang buncit, haha)..  aku belanja perlengkapan gizi untuk calon anak kami (seperti susu untuk ibu hamil) dan lain sebagainya. Aku memijat Anggie yang sering muntah karena mual, walaupun akhirnya aku ikut-ikut muntah (dan itu berulang-ulang kali).

Perlahan aku mulai merasakan kebahagiaan yang bisa aku lakukan untuk istriku, menemaninya senam sampai menemaninya USG.
……

hari berganti cepat, bulan pun berganti dengan cepat, dan bulan ini, Anggie telah memasuki usia sebilan bulan lebih delapan hari, malam itu Anggie merasa sakit diperutnya, aku dengan panik langsung mengantar Anggie ke RS, Anggie bilang padaku untuk menelfon dokter kandungannya.

Sesampainya di rumah sakit, tim medis cepat menangani Anggie, dokter bilang begitu Air ketuban pecah Anggie akan siap-siap untuk bersalin, apa yang dimaksud Air ketuban??? Aku tidak tahu, aku hanya bisa menemani anggie yang mengerang-erang kesakitan, tiba-tiba saja perutku ikut sakit. Rasanya aku tidak tahan jika harus menemani Anggie selama persalinan, tapi aku mencobanya, demi Ann istriku, dan demi anak kami.

Proses persalinan tengah berjalan, tubuhku bergetar, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhku, aku tetap menggenggam tangan Ann yang teriak-teriak kesakitan, dan… Anggie teriak dengan kencang dan saat itu anak kami lahir dengan proses persalinan yang normal. Aku melihat anggie menghela nafas lega, akupun ikut lega dan aku terjatuh tak sadarkan diri.
…..

begitu aku bangun, aku terduduk disofa RS (apa yang terjadi, setelah entah berapa lama aku pingsan?)  aku melihat seorang suster masuk kedalam ruangan, aku mengikuti suster itu dan aku melihat suster memberkan bayi mungil pada Anggie, Anggie menatapku lalu tersenyum, Anggie menyusui Bayi itu (maksudku Bayi kami), aku mendekat dan saat itu, hati aku bergetar, aku melihat Bayi itu sangat nyaman menyusi dengan ibunya. Setelah suster keluar Anggie bicara padaku.

Ann : Entah apa yang harus aku ucapkan kepadamu, tapi kamu sudah menjadi suami yang begitu luar biasa, kamu temani aku melahirkan walau sebenarnya aku tahu kamu tak tahan menyaksikannya, dan sebelum melahirkan walau agak terlambat.. tetapi kamu masih mau menemani aku dengan perut besarku, kamu pasti akan menjadi papa yang baik dan luar biasa untuk anak kita.

Aku tersenyum menatap Anggie, aku terdiam kembali menatap ANAK ku.. aku menyentuh pipinya dan menciumnya lembut.

****

Tulisan diatas, adalah tulisan suamiku.. sebelum kecelakaan menghantam nyawanya, Radit meninggal pada usianya yang ke 36 tahun, Radit memberikan aku 2 orang putri yang sangat cantik.

Walaupun usianya tidak panjang tetapi bagiku Radit tetap bersama kami, aku memutuskan untuk tidak menikah lagi, aku berusaha membesarkan kedua putriku seorang diri, aku ingat kalimat Radit yang dia kirim untukku lewat sms sebelum kecelakaan itu terjadi “Tanpa kamu mungkin aku tak akan bisa merasakan keindahan hidup yang sebenarnya : melihat anakku, darah dagingku lahir kedunia, terimakasih Ann, aku sangat mencintaimu”. Tulisan suamiku aku terbitkan dalam sebuah Koran dan membuat banyak pembaca membincangkannya, mungkin tulisan suamiku bisa menjadi buah pikiran bagi orang-orang diluar sana yang takut memiliki anak.

Bagiku, Radit tetap suami dan papa yang LUAR BIASA.. dia tak akan pernah tergantikan. Kini saatnya aku menjelaskan pada kedua putriku yang selalu bertanya “mama.. papa dimana? Kapan papa pulang?”.